BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Sentuhan Tangan Ny. Arnengsih Hanafis, Sulam Peniti Pariaman Tembus Ajang Persit Bisa

Pariaman, Sumatera Barat – Di sebuah rumah sederhana di Pariaman, denting halus jarum yang menembus kain menjadi saksi lahirnya karya seni bernilai tinggi. Di balik keindahan setiap helai sulaman, terdapat sosok Ny. Arnengsih Hanafis, seorang ibu rumah tangga sekaligus anggota Persit Kartika Chandra Kirana yang dengan tekun melestarikan sulam peniti, salah satu warisan budaya khas daerah.

Bagi Ny. Arnengsih, sulam peniti bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan wujud kecintaan terhadap tradisi turun-temurun dari leluhur Minangkabau. Di tengah kesibukannya mengurus keluarga dan mendampingi suami, ia tetap meluangkan waktu untuk berkarya. Ketekunan, kesabaran, dan ketelitian menjadi fondasi utama dalam setiap proses yang ia jalani.

Pembuatan sulam peniti diawali dengan menyiapkan bahan seperti kain polos, jarum jahit, dan benang sulam. Selanjutnya, pola digambar atau dijiplak di atas kain dengan motif khas Minangkabau, seperti bunga dan daun yang sarat makna filosofis. Tidak hanya itu, Ny. Arnengsih juga merancang gradasi warna secara cermat agar hasil sulaman terlihat hidup, harmonis, dan memiliki nilai estetika tinggi.

Memasuki tahap penyulaman, benang dimasukkan ke dalam jarum, lalu dijahit mengikuti pola secara perlahan. Setiap jahitan dikunci dengan rapi agar kuat dan tidak mudah lepas. Proses ini menuntut ketelitian tinggi, terutama dalam menyusun gradasi warna, baik dari tua ke muda maupun sebaliknya, sehingga menghasilkan efek visual yang lembut dan berdimensi.

Untuk motif yang rumit, pengerjaan sulam peniti dapat memakan waktu hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Namun, bagi Ny. Arnengsih, proses panjang tersebut merupakan bagian dari seni yang menuntut kesabaran dan ketulusan.

Tahap akhir adalah pengecekan dan perapian. Benang-benang sisa dipotong, jahitan diperiksa kembali, dan kain disetrika agar tampak sempurna. Ia memastikan setiap detail tersusun rapi dengan komposisi warna yang seimbang. Baginya, kualitas dan kerapian adalah identitas utama dari setiap karya yang dihasilkan.

Semangat berkarya tersebut mendorong Ny. Arnengsih untuk terus memperkenalkan sulam peniti Pariaman ke panggung yang lebih luas, salah satunya melalui partisipasinya dalam ajang Persit Bisa yang diselenggarakan oleh Persit Kartika Chandra Kirana sebagai wadah pemberdayaan anggota dalam bidang kreativitas dan kewirausahaan.

Ajang ini menjadi ruang bagi anggota Persit dari berbagai daerah untuk menampilkan produk unggulan, mulai dari kerajinan hingga kuliner. Melalui kegiatan tersebut, para pelaku usaha rumahan dapat memperluas jaringan, bertukar pengalaman, serta membuka peluang pasar yang lebih luas.

Rencananya, kegiatan Persit Bisa akan digelar pada 7–9 Mei 2026 di Balai Kartini. Dalam kesempatan tersebut, sulam peniti khas Pariaman turut ambil bagian sebagai representasi kerajinan daerah yang memiliki nilai seni dan potensi ekonomi tinggi.

Keikutsertaan ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan sulam peniti ke tingkat nasional. Ny. Arnengsih berharap melalui karya-karyanya, sulam peniti tidak hanya dikenal sebagai kerajinan tradisional, tetapi juga sebagai produk kreatif yang mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian keluarga.

Dengan semangat pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi, kiprah Ny. Arnengsih Hanafis diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak perempuan untuk terus berkarya, menjaga warisan leluhur, serta membuka peluang usaha yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Posting Komentar

0 Komentar